Di Munas KOPEK II, Joune Ganda Buka Persoalan Besar di Balik Industri Kelapa

banner 468x60

Manado, Narasione.com- Persoalan pengembangan komoditas kelapa tidak hanya berkaitan dengan luas lahan dan produksi, tetapi juga menyangkut regenerasi petani, tenaga pemanjat, kepastian harga hingga hilirisasi.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Dr. Joune Ganda saat menghadiri Pembukaan Resmi Musyawarah Nasional (Munas) Koalisi Pemerintah Daerah Penghasil Kelapa (KOPEK) II 2026 di Courtyard by Marriott Manado Hotel, Rabu (7/10/2026).

banner 336x280

Joune Ganda hadir mewakili Ketua Umum APKASI dalam kegiatan yang dirangkaikan dengan peringatan World Coconut Day 2026 tersebut.

Menurut Joune, APKASI akan terus mendukung berbagai program yang mendorong pengembangan komoditas kelapa, khususnya di daerah-daerah yang masih memiliki potensi lahan kelapa.

Ia menilai, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah semakin berkurangnya luas lahan kelapa di sejumlah daerah akibat perkembangan wilayah dan alih fungsi lahan.

Joune mencontohkan kondisi di Kabupaten Minahasa Utara. Daerah tersebut, kata dia, pernah menjadi salah satu sentra produksi kelapa dengan luas areal yang besar di Sulawesi Utara.

Namun, perkembangan Minahasa Utara sebagai wilayah yang tumbuh cepat membuat sebagian lahan beralih fungsi menjadi kawasan pergudangan, industri dan permukiman.

“Memang menjadi sesuatu yang sangat menarik apabila kita mampu meningkatkan produktivitas lahan yang ada,” ujar Joune Ganda saat membawakan sambutan di sela-sela pembukaan Munas mewakili Kepala Daerah yang hadir.

Di sisi lain, persoalan tenaga pemanjat kelapa juga menjadi tantangan tersendiri. Menurut Joune, sebagian besar tanaman kelapa di Minahasa Utara merupakan kelapa dalam yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Bahkan, Bupati Minasa Utara ini juga menjelaskan tentang sebagian tanaman yang masih dipanen saat ini telah berusia puluhan tahun.

“Yang kita panen sekarang ini adalah hasil dari warisan orang-orang tua kita yang mungkin sudah di atas 20, 50, 80, bahkan mungkin ada yang 100 tahun,” katanya.

Persoalan muncul ketika regenerasi tidak berjalan seimbang. Generasi muda, menurut Joune, mulai memiliki pilihan pekerjaan lain yang dianggap lebih mudah menghasilkan pendapatan dibandingkan menjadi pemanjat kelapa.

Kondisi tersebut pada akhirnya ikut memengaruhi proses panen di tingkat petani.

Joune juga menyoroti persoalan harga kopra yang cenderung berfluktuasi. Ketidakpastian harga dinilai dapat memengaruhi minat petani untuk terus merawat dan memanen tanaman kelapa mereka.

“Kalau harga jatuh, akhirnya kelapa itu dibiarkan jatuh sendiri. Kalau sudah jatuh sendiri, kualitas dan pemanfaatan dari kelapa itu sendiri makin berkurang,” ungkapnya.

Karena itu, ia mendorong agar pengembangan kelapa tidak berhenti pada peningkatan produksi bahan mentah. Hilirisasi harus berjalan beriringan sehingga hasil kelapa memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan mampu memberikan kepastian penghasilan bagi petani.

Joune menyebut Kabupaten Minahasa Utara telah memiliki sejumlah industri pengolahan yang memanfaatkan komoditas kelapa. Kehadiran industri baru, menurutnya, menjadi peluang yang harus dapat dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan petani.

Ia mencontohkan berkembangnya industri yang memanfaatkan kelapa dalam produk minuman dan kopi. Posisi Minahasa Utara yang dekat dengan Pelabuhan Bitung dan Bandara Sam Ratulangi dinilai menjadi salah satu faktor pendukung investasi dan distribusi produk.

“Ini merupakan satu peluang. Tetapi kembali lagi, kita tidak mampu melihat bahwa hasil hilirisasi ini bisa meningkatkan minat dari para petani kelapa kalau kita tidak mampu melakukan terobosan-terobosan dalam hal panen, cara panennya, kemudian peremajaannya,” jelas Joune.

Menurut dia, pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan perlu menghitung secara lebih serius siklus produksi tanaman kelapa, biaya perawatan, masa produktif hingga potensi pendapatan yang bisa diterima petani.

Dengan demikian, komoditas kelapa benar-benar dapat menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

“Kalau mampu menghidupi, saya yakin tidak perlu disuruh, dia pasti akan tanam,” tegasnya.

Joune juga mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan generasi muda yang kini mulai diarahkan menjadi petani milenial.

Menurutnya, pemerintah daerah jangan hanya mendorong anak-anak muda masuk ke sektor pertanian, tetapi juga harus memastikan mereka memiliki prospek ekonomi yang jelas setelah menjalankan usaha tersebut.

“Setelah kita sudah endorse, setelah dia sudah menghasilkan, ternyata dia kecewa. Nah, ini kan kami jadi ikut berdosa juga. Kita sudah arahkan dia untuk bisa mengelola atau mencari jalan seperti itu, tetapi ternyata dia kecewa,” ujarnya.

Ia berharap Munas KOPEK II 2026 dapat menjadi ruang untuk merumuskan langkah konkret dalam menjawab berbagai persoalan tersebut, mulai dari produktivitas, regenerasi petani, tenaga panjat, peremajaan tanaman, stabilitas harga hingga penguatan hilirisasi.

Joune menegaskan, pengembangan komoditas kelapa harus mampu memberikan manfaat nyata bagi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor tersebut.

“Kalau komoditas itu mampu menghidupinya, maka tidak perlu disuruh dia pasti akan mengolah,” pungkasnya. (Ficky)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *