Minut, Narasione.com- Dunia musik Indonesia kembali diselimuti awan duka. Di tengah hiruk-pikuk kota New York yang tak pernah tidur, salah satu putra terbaik Nusantara, James Freddy Sundah, akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Sang maestro berpulang pada Kamis, 7 Mei 2026, pukul 11.00 WIB, meninggalkan warisan nada yang telah menjadi soundtrack kehidupan lintas generasi.
Perjalanan James melawan kanker paru-paru adalah sebuah simfoni perjuangan yang sunyi. Selama dua tahun terakhir, ia telah mengupayakan segala cara, dari perawatan medis paling mutakhir hingga kedisiplinan menghentikan kebiasaan merokok. Namun, takdir berkata lain ketika sel kanker mulai menyebar ke liver dan tulang. Meski raganya kian rapuh, semangat James tetap menyala hingga detik-detik terakhir.
Di sela perjuangan melawan sakitnya, James masih sempat menitipkan sebuah kado perpisahan yang manis. Ia menciptakan lagu “Seribu Tahun Cahaya” khusus untuk istrinya, yang kemudian dirilis tahun lalu melalui suara emas Claudia Emmanuela Santoso. Lagu ini seolah menjadi pesan bahwa meski raga terpisah, cinta dan karyanya akan terus bersinar menembus dimensi waktu.
Sepanjang kariernya, James adalah sosok di balik layar yang menghidupkan nama-nama besar. Dari Vina Panduwinata hingga Chrisye, dari Krisdayanti hingga Sheila Majid, sentuhan dinginnya selalu berhasil melahirkan mahakarya. Tentu saja, siapa yang bisa melupakan “Lilin-Lilin Kecil”? Lagu abadi yang terus dinyanyikan dari dekade ke dekade, memberikan harapan bagi siapapun yang mendengarnya.
James bukan sekadar pencipta lagu lokal. Keluwesannya dalam berbahasa Inggris membukakan pintu ke panggung internasional, bahkan membawanya berkolaborasi dengan grup legendaris dunia, Scorpions. Di Amerika Serikat, ia tidak hanya bermusik, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak musisi. Ia mendalami masalah hak cipta dan royalti, memastikan bahwa para kreator mendapatkan apresiasi yang layak atas karya mereka.
Dedikasi luar biasa ini pun mendapat penghormatan tinggi dari tanah air. Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, melalui Bupati Dr. Joune J.E. Ganda dan Wakil Bupati Kevin W. Lotulung, memberikan apresiasi mendalam bagi sang Maestro Budaya Nusantara.
Bagi mereka, James adalah sosok yang tak lelah menginspirasi generasi muda melalui seni yang tak terlupakan.
Rencananya, James akan dimakamkan pada Senin, 11 Mei 2026, di St. John Cemetery, New York. Pemakaman bersejarah yang berdiri sejak 1932 ini merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi tokoh-tokoh besar, termasuk mantan Gubernur New York, Mario Cuomo.
Kini, lilin kecil itu telah padam, namun sinarnya telah berpindah ke dalam hati setiap penikmat karyanya. Selamat jalan, James F. Sundah. Terima kasih telah mewarnai Indonesia dengan nada-nada indahmu. (Ficky)















