AJI Manado Soroti Tantangan Jurnalis di Sulut, Tekankan Pentingnya Serikat dan Perlindungan Kerja

Manado77 Dilihat
banner 468x60

Manado, Narasione.com- Momentum peringatan Hari Buruh dan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 dimanfaatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado untuk mengulas kondisi terkini profesi jurnalis di Sulawesi Utara. Diskusi yang digelar Rabu (6/5/2026) itu menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari pegiat advokasi hingga perwakilan organisasi jurnalis.

Dalam forum tersebut, isu perlindungan jurnalis, kesejahteraan, hingga independensi media menjadi sorotan utama. Pengurus Serikat Pekerja Media, Bathin Razak, menegaskan bahwa keberadaan organisasi atau serikat masih relevan di tengah dinamika industri media saat ini.

banner 336x280

Menurutnya, solidaritas antarsesama jurnalis menjadi kunci dalam menghadapi persoalan klasik seperti upah rendah, pemutusan hubungan kerja, hingga intervensi terhadap ruang redaksi. Ia juga menyinggung pentingnya kemandirian ekonomi perusahaan media sebagai fondasi menjaga independensi pemberitaan.

“Kalau media kuat secara ekonomi, tekanan dari luar bisa diminimalisir,” ujarnya.

Sementara itu, aspek perlindungan tenaga kerja turut disoroti oleh bidang Advokasi AJI Manado, Ronny Sepang. Ia mengingatkan para pemilik perusahaan media agar memenuhi kewajiban terhadap karyawan, khususnya terkait jaminan sosial.

“BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Ini penting untuk melindungi pekerja media dari risiko di masa depan,” tegasnya.

Dari sisi hukum, perwakilan LBH Pers Manado, Sartika Sasmi Ticoalu, memaparkan perkembangan terbaru terkait penyelesaian sengketa jurnalistik. Ia merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi awal 2026 yang menegaskan bahwa perkara pers harus diselesaikan melalui mekanisme Dewan Pers.

Putusan tersebut, kata dia, menjadi penguatan bagi jurnalis selama karya yang dihasilkan memenuhi kaidah etik dan standar jurnalistik. “Selama bekerja sesuai aturan, jurnalis tidak bisa serta-merta diproses secara pidana,” jelasnya.

Ketua AJI Manado, Fransiskus Talokon, menambahkan bahwa di tengah pesatnya pertumbuhan media, profesionalisme menjadi pembeda utama. Ia mendorong anggota AJI untuk terus meningkatkan kapasitas serta menjaga integritas dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Sebagai tindak lanjut, AJI Manado berencana menggelar sejumlah program peningkatan kapasitas, termasuk pelatihan paralegal dan jurnalisme data yang dijadwalkan mulai pertengahan tahun ini.

Diskusi ini menjadi refleksi bersama bahwa tantangan jurnalisme di daerah tidak hanya soal kebebasan pers, tetapi juga menyangkut kesejahteraan, perlindungan hukum, dan kualitas profesionalisme di tengah perubahan lanskap media yang terus bergerak. (Ficky)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *