Boyolali, Narasione.com– Momentum bersejarah kembali dirayakan oleh masyarakat desa di seluruh penjuru tanah air. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 2024, tanggal 15 Januari kini resmi diperingati sebagai Hari Desa Nasional. Untuk tahun 2026, pusat perayaan nasional digelar dengan khidmat di Lapangan Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Mengusung tema besar “Bangun Desa, Bangun Indonesia: Desa Terdepan Menuju Indonesia Emas 2045”, acara ini menjadi panggung bagi desa-desa untuk menunjukkan taringnya dalam pembangunan nasional. Boyolali dipilih sebagai tuan rumah berkat keberhasilannya mengintegrasikan potensi lokal dengan pemberdayaan masyarakat yang progresif.
Visi Transformasi Desa dari Sulawesi Utara
Menanggapi perayaan besar tersebut, Herol Vresly Kaawoan (HVK), Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Sulawesi Utara sekaligus Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Pemberdayaan Masyarakat, memberikan pandangan strategisnya.
Pria yang juga dikenal sebagai Pimpinan Komisi 1 DPRD Sulut periode 2019-2024 ini menekankan bahwa Hari Desa Nasional bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat akan mandat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014.
”Kita ingin melihat desa-desa di seluruh Indonesia, khususnya di Sulawesi Utara, bertransformasi menjadi subjek pembangunan yang mandiri. Pemberdayaan masyarakat harus menyentuh akar rumput agar potensi lokal bisa dikelola secara optimal,” ujar HVK.
Sentilan Terhadap Tata Kelola Dana Desa
Dalam kesempatan tersebut, Herol secara khusus menyoroti aspek integritas para aparatur desa. Ia berharap kedepannya tidak ada lagi kabar miring mengenai kepala desa yang terjerat masalah hukum akibat penyalahgunaan kekuasaan atau korupsi dana desa.
”Pengelolaan keuangan desa harus semakin transparan dan akuntabel. Dana desa adalah amanah untuk kesejahteraan warga, bukan untuk kepentingan pribadi. Kami di Sulut terus mendorong agar sinergi antara pemerintah dan masyarakat desa berjalan tanpa celah hukum,” tegasnya.
Inspirasi Kolaborasi: Belajar dari BUMDes Bersama
Herol juga membagikan kisah sukses dari Bumi Nyiur Melambai sebagai contoh konkret. Ia mengapresiasi inovasi BUMDes Bersama di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) yang berhasil menyulap potensi alam menjadi spot wisata baru yang menghasilkan pendapatan signifikan dalam waktu singkat.
”Kolaborasi antar-desa adalah kunci. Apa yang terjadi di Mitra membuktikan bahwa jika kita mau berinovasi dan bekerja sama, desa mampu menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan mandiri. Inilah yang kita maksud dengan desa sebagai ujung tombak menuju Indonesia Emas 2045,” tambah Staf Khusus Gubernur Yulius Selvanus Komaling (YSK) tersebut.
Rangkaian Acara di Boyolali
Peringatan di Boyolali sendiri diwarnai dengan berbagai agenda penting:
- Penganugerahan Penghargaan: Apresiasi bagi desa-desa berprestasi di tingkat nasional.
- Deklarasi Boyolali: Komitmen bersama para kepala desa se-Indonesia untuk pembangunan berkelanjutan.
- Ekspo Produk Unggulan: Pameran karya UMKM desa yang menunjukkan kreativitas ekonomi kerakyatan.
Dengan semangat Hari Desa Nasional, pemerintah berharap desa tidak lagi menjadi objek pembangunan, melainkan aktor utama yang inklusif dan berkelanjutan demi kemajuan bangsa.(Ficky)




















