Pangkas Biaya ke China, Sinergi BI dan Bea Cukai Buka Gerbang Ekspor Raksasa dari Sulut

Manado111 Dilihat
banner 468x60

Manado, Narasione.com– Akselerasi pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara (Sulut) bersiap memasuki babak baru. Bank Indonesia (BI) bersama Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Sulawesi Bagian Utara dan KPPBC TMP C Bitung menggelar Focus Group Discussion (FGD) strategis untuk mematangkan persiapan peluncuran jalur pelayaran langsung (direct call) rute Bitung menuju China.

​Langkah koordinasi ini diambil menjelang peresmian rute pelayaran internasional tersebut yang dijadwalkan pada 18 Juni 2026 mendatang. Forum ini mempertemukan regulator, sektor perbankan, akademisi, hingga pelaku usaha demi menyamakan persepsi dan kesiapan teknis di lapangan.

banner 336x280

​Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Joko Supratikto, menjelaskan bahwa perekonomian Sulut saat ini berada dalam tren positif dengan pertumbuhan sebesar 5,54% (yoy) pada triwulan I-2026.

Kendati demikian, kehadiran jalur direct call ini diyakini bakal menjadi stimulus baru yang mendongkrak performa tersebut jauh lebih tinggi.

​”Jalur langsung Bitung-China ini adalah katalis penting. Melalui rute ini, efisiensi biaya transportasi dapat dipangkas, waktu logistik menjadi lebih singkat, dan akses pasar global terbuka lebar. Ini jelas akan memperkuat daya saing komoditas unggulan kita,” ujar Joko saat membuka kegiatan tersebut di Manado, Jumat (5/6)pekan lalu.

​Senada dengan BI, Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Sulbagtara, Adeltus Lolok, menekankan bahwa dampak positif efisiensi logistik ini tidak hanya melokalisasi di Sulawesi Utara. Ekosistem ekspor yang terintegrasi ini diproyeksikan turut menggairahkan roda perekonomian wilayah penyangga di sekitarnya, seperti Gorontalo dan Maluku Utara.

​Bagi para eksportir, kepastian rute langsung ini menjamin kualitas produk tetap terjaga berkat waktu tempuh yang lebih cepat, yang pada akhirnya meningkatkan nilai jual dan mengoptimalkan penerimaan pembayaran.

​​FGD ini juga membedah kesiapan operasional dari hulu ke hilir, mulai dari regulasi hingga insentif konkret bagi pelaku usaha:

​Kelancaran Dokumen & Kepabeanan: Kepala KPPBC TMP C Bitung, Didit Prayudi Sidharta, memberikan kepastian hukum terkait ekspor Sumber Daya Alam (SDA). Ia menegaskan bahwa komoditas kelapa—yang menjadi andalan Sulut—tidak termasuk dalam kategori komoditas SDA strategis tertentu yang mengalami perubahan regulasi, sehingga pelaku usaha tidak perlu khawatir.

​Diskon Tarif Pelabuhan: Komitmen nyata ditunjukkan oleh PT Pelindo TPK. Terminal Head Pelindo Bitung, Jusri, mengungkapkan bahwa infrastruktur pelabuhan kini telah terdigitalisasi penuh.

Untuk merangsang volume perdagangan, Pelindo memberikan stimulus ekstrem berupa diskon biaya penumpukan (storage) hingga 100%. Ditambah lagi, kolaborasi dengan SITC menghadirkan fasilitas gratis penumpukan petikemas kosong selama 30 hari serta pemotongan tarif CHC hingga 5% secara bertahap.

​Kemudahan Investasi: Kepala DPMPTSP Sulut, Hermina Syaloom D. Korompis, menyatakan Pemerintah Provinsi tengah merancang paket insentif fiskal dan non-fiskal. Langkah ini difokuskan untuk menarik minat investor di sektor hilirisasi perikanan, pertanian, pariwisata, hingga energi terbarukan.

​Dukungan Finansial: Sektor perbankan yang diwakili BNI Kantor Cabang Bitung dan Bank Mandiri Sulut Gorontalo turut memastikan kesiapan mereka. Selain menyosialisasikan PP No. 21 Tahun 2026 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE), perbankan siap mengucurkan ragam produk pembiayaan produktif untuk menyokong modal kerja para eksportir.

​Kolaborasi solid antarinstansi ini diharapkan tidak hanya menjadikan peluncuran rute Bitung-China sebagai seremonial belaka, melainkan sebuah program berkelanjutan yang memposisikan Pelabuhan Bitung sebagai gerbang utama ekspor bagi kawasan Indonesia Timur.(Ficky)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *