​Ancaman Nyata di Balik Senyapnya Isu Perubahan Iklim Kelautan Indonesia

banner 468x60

Minut, Narasione.com – Meski dampaknya mematikan, isu perubahan iklim di sektor kelautan masih sering dipandang sebelah mata dan kurang mendapatkan perhatian publik. Hal ini terungkap dalam diskusi Green Press Community (GPC) 2026 yang digelar di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Sabtu (7/2/2026).

​Senior Analyst Ocean dari Climateworks Center, Wira Ditama Pratama, mengungkapkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap krisis iklim masih rendah. Merujuk pada data tahun 2019, Indonesia bahkan sempat tercatat sebagai negara dengan tingkat skeptisisme tertinggi terhadap perubahan iklim.

banner 336x280

​”Ketidaktahuan dan banyaknya misinformasi menjadi penghambat utama. Padahal, dampak di wilayah pesisir seperti abrasi, banjir rob, hingga badai ekstrem sudah menjadi ancaman nyata yang bisa berujung pada bencana ekologi,” jelas Wira.

Wira mematahkan anggapan bahwa perlindungan lingkungan laut akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, riset Climateworks Center menunjukkan bahwa sektor ekonomi biru Indonesia berpotensi menyumbang hingga 1,3 triliun dolar AS.

​Indonesia juga memegang peran krusial dunia dengan menyimpan 17 persen cadangan karbon biru global melalui ekosistem mangrove, padang lamun, dan rawa asin. “Jika dikelola dengan benar, ekosistem laut tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen per tahun, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045,” tambahnya.

Di sisi lain, Fegi Nurhabni dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengakui bahwa isu kelautan dalam perubahan iklim memang belum menjadi primadona di kancah internasional. Namun, pemerintah terus berupaya mendorongnya menjadi agenda global.

Saat ini, KKP tengah fokus pada lima poin strategis, termasuk perluasan kawasan konservasi serta pengawasan ketat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, termasuk di Sulawesi Utara.

Senada dengan hal itu, akademisi Mahawan Karuniasa menekankan pentingnya keseimbangan antara restorasi lingkungan dan edukasi masyarakat. “Selain memperbaiki terumbu karang dan mangrove, kita harus mengajarkan masyarakat pesisir cara beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi,” ujarnya.

Armyanda Tussadiyah dari Pesisir Lestari menambahkan bahwa ekosistem karbon biru, terutama mangrove, memiliki kemampuan menyerap emisi jauh lebih efektif dibandingkan hutan di daratan. Pelestarian mangrove bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan investasi jangka panjang untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.(Ficky)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *