Minut, Narasione.com – Fluktuasi harga cabai rawit atau yang karib disingkat rica oleh masyarakat Sulawesi Utara masih menjadi salah satu pemicu utama inflasi daerah. Merespons tantangan ekonomi tersebut, Pemerintah Kecamatan Likupang Barat (Likbar) mengambil langkah taktis dengan menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah desa untuk menggalakkan gerakan menanam rica secara massal.
Komitmen ini ditandai dengan peluncuran program Penanaman Rica Ketahanan Pangan yang dipusatkan di Desa Serei, Jumat (12/6/2026). Gerakan ini dirancang sebagai benteng pertahanan pangan lokal guna memutus ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Camat Likupang Barat, Maikel M. Parengkuan, SSTP, menyatakan bahwa pemanfaatan lahan tidur dan pekarangan warga menjadi solusi paling rasional untuk meredam gejolak harga pangan di tingkat domestik.
”Kami ingin membangun kemandirian pangan dari unit terkecil, yaitu keluarga dan desa. Gerakan menanam rica ini bukan sekadar program seremonial, melainkan investasi jangka panjang untuk kesejahteraan dan stabilitas ekonomi masyarakat Likupang Barat,” ujar Maikel di sela-sela kegiatan penanaman.
Mengingat rica merupakan komoditas sensitif yang pergerakan harganya langsung berdampak pada daya beli dapur warga, Maikel meminta seluruh hukum tua (kepala desa) di wilayahnya tidak main-main dalam mengawal program ini. Ia menegaskan pentingnya konsistensi dan keberlanjutan pasca-penanaman.
“Saya instruksikan seluruh pemerintah desa di Likbar untuk mereplikasi gerakan ini. Semua harus bergerak, berinovasi, dan memastikan program menanam rica ini menyentuh seluruh lapisan masyarakat hingga ke tingkat pelosok desa,” tegasnya.
Melalui integrasi program dari tingkat kecamatan hingga desa, pemerintah setempat optimistis Likupang Barat mampu memproduksi kebutuhan cabai secara mandiri. Langkah ini juga diharapkan dapat memicu produktivitas warga dalam mengoptimalkan lahan kosong di sekitar tempat tinggal mereka menjadi area produktif yang bernilai ekonomi. (Ficky)












