Minut, Narasione.com – Komitmen Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dalam menjaga akar budaya lokal kembali ditegaskan. Bupati Joune Ganda melakukan tatap muka bersama Lembaga Adat Paimpuluan Nuwu Ne Tonsea (PNNT) di Lantai III Kantor Bupati pada Selasa (07/04/2026).
Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi pelestarian identitas daerah, di mana PNNT melaporkan bahwa penyusunan Kamus Bahasa Tonsea kini telah memasuki tahapan rangkuman akhir.
Dalam sambutannya, Bupati Joune Ganda menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para tokoh adat dan guru tutor yang terus berjuang mempertahankan sub-etnis Tonsea di tengah arus modernisasi.
”Sebuah peradaban tidak akan ada artinya apabila akar budayanya hilang. Kita bisa melihat Jakarta yang sangat modern namun tetap menjaga budaya Betawi. Kita pun tidak ingin budaya Tonsea hilang ditelan zaman,” ujar Bupati Joune Ganda.
Ketua PNNT Minut, Ferdinand, turut mengapresiasi dukungan penuh dari pemerintah daerah. Ia mengakui bahwa perhatian Bupati Joune Ganda sangat membantu perkembangan organisasi dan kelancaran program kerja PNNT selama ini.
Meski mengakui adanya tantangan finansial akibat pengurangan dana transfer dari Pemerintah Pusat, Bupati menegaskan komitmennya untuk tetap memprioritaskan pelestarian budaya. Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain:
- Penganggaran Operasional: Pemerintah telah menganggarkan dana untuk 10 bulan di tahun 2026 yang akan segera dikoordinasikan dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
- Insentif Khusus: Sebagai bentuk kepedulian pribadi di tengah keterbatasan anggaran daerah, Bupati mengupayakan Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar Rp1.000.000 yang bersumber dari dana pribadi untuk membantu anggota PNNT.
- Sarana Pendidikan: Pemkab Minut berencana memfasilitasi pembuatan buku panduan bahasa Tonsea agar dapat digunakan secara masif oleh para tutor di sekolah-sekolah.
Di sela-sela pembahasan budaya, Bupati juga mengingatkan para pengurus PNNT mengenai kondisi geopolitik dunia yang tidak menentu akibat konflik di Timur Tengah.
Ia menganjurkan masyarakat, khususnya keluarga besar PNNT, untuk memperkuat ketahanan pangan secara mandiri. “Saya mengajak kita semua untuk mulai menanam bahan kebutuhan pokok sebagai langkah antisipasi terhadap dampak ekonomi global,” tutupnya.
Pertemuan ini memperlihatkan sinergi antara pemerintah dan lembaga adat dalam memastikan bahasa dan tradisi Tonsea tetap hidup bagi generasi mendatang. (Ficky)












