Revitalisasi Bahasa Tonsea Upaya Kolaboratif Pemkab Minut dan Balai Bahasa Melawan Kepunahan

Minahasa Utara224 Dilihat
banner 468x60

Minut, Narasione.com– Bahasa Tonsea, sebagai salah satu identitas kultural vital di Minahasa Utara, kini tengah diperjuangkan agar tetap eksis di tengah gempuran globalisasi.

Langkah nyata ini diwujudkan melalui kerja sama antara Dinas Pendidikan Kabupaten Minahasa Utara (Minut) dan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Utama Perlindungan Bahasa Daerah Tonsea.

banner 336x280

​Bertempat di Hotel Sentra Manado pada Rabu (29/4/2026), kegiatan ini resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Minut, Ir. Jovieta Supit. Sebanyak 42 tenaga pendidik, yang terdiri dari 21 guru SD dan 21 guru SMP, disiapkan menjadi “Guru Utama” untuk menjadi garda terdepan pelestarian bahasa ibu.

​Dalam arahannya, Jovieta Supit menyoroti tantangan serius yang dihadapi Bahasa Tonsea, terutama menurunnya jumlah penutur aktif di kalangan generasi muda.

Menurutnya, revitalisasi bahasa bukan sekadar soal arsip dan dokumen, melainkan upaya menghidupkan kembali bahasa dalam interaksi harian.

​”Bahasa daerah adalah jati diri kita. Kita ingin memastikan Bahasa Tonsea tidak hanya menjadi sejarah, tetapi tetap hidup dan digunakan oleh generasi penerus,” ujar Jovieta.

​Berbeda dengan pengajaran konvensional, Bimtek kali ini mengusung pendekatan kreatif. Para guru dibekali materi yang menggabungkan sastra dan seni pertunjukan. Peserta diajarkan cara mengemas bahasa daerah melalui puisi, dongeng, pidato, nyanyian (tembang), hingga komedi tunggal (stand-up comedy).

​Metode yang menyenangkan dan relevan dengan tren masa kini diharapkan dapat menarik minat siswa untuk mempelajari bahasa daerah tanpa merasa bosan atau terbebani.

​Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Januar Pribadi, turut hadir memberikan dukungan penuh atas inisiatif ini. Jovieta berharap, sekembalinya ke sekolah masing-masing, para guru mampu mengimbaskan ilmu yang didapat kepada rekan sejawat dan seluruh siswa di Minahasa Utara.

​”Pengajaran harus inovatif dan tidak kaku. Kita ingin anak-anak muda merasa bangga dan senang menggunakan Bahasa Tonsea,” pungkasnya.

​Kolaborasi ini diharapkan menjadi momentum kuat bagi pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk bahu-membahu menjaga kekayaan budaya Minahasa Utara agar tetap abadi. (Ficky Koloay)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *