Bukan Daratan, Kunci Indonesia Emas 2045 Justru Ada di Akar Mangrove dan Lautan Yang Sehat

banner 468x60

Minut, Narasione.com-Di tengah bayang-bayang krisis iklim yang kian nyata, sektor kelautan Indonesia justru masih sering dipandang sebelah mata. Padahal, wilayah pesisir kini berada di garis depan menghadapi ancaman banjir rob dan abrasi yang kian agresif.

​Dalam agenda Green Press Community (GPC) 2026 di Sulawesi Utara, Sabtu (7/2), terungkap tantangan besar yang dihadapi bangsa: tingkat pemahaman publik yang rendah. Senior Analyst Ocean dari Climateworks Center, Wira Ditama Pratama, menyoroti fakta bahwa misinformasi masih menjadi penghalang utama masyarakat dalam menyadari urgensi perubahan iklim.

banner 336x280

​Ada anggapan keliru bahwa konservasi laut akan menghambat laju ekonomi. Namun, data Climateworks Center justru membedah potensi yang fantastis. Dengan 75 persen wilayah berupa perairan, Indonesia berpeluang meraup 1,3 triliun dolar AS dari sektor ekonomi biru.

​”Menjaga ekosistem laut bukan berarti mematikan ekonomi. Sebaliknya, ini adalah kunci untuk mendorong pertumbuhan nasional hingga 8 persen per tahun, demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” tegas Wira.

​Indonesia sendiri memegang peranan krusial dunia dengan menyimpan 17 persen cadangan karbon biru global yang tersimpan di rawa asin, padang lamun, dan hutan mangrove.

​Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengakui bahwa membawa isu kelautan ke panggung global bukanlah perkara mudah. Perwakilan KKP, Fegi Nurhabni, menyatakan pihaknya kini fokus pada aksi nyata di lapangan melalui lima langkah strategis, termasuk perluasan kawasan konservasi dan pengawasan ketat terhadap pulau-pulau kecil.

​Di sisi lain, akademisi Mahawan Karuniasa menekankan bahwa restorasi fisik saja tidak cukup. “Masyarakat di wilayah rentan harus diajarkan cara beradaptasi. Mitigasi dan adaptasi harus berjalan beriringan,” ujarnya.

​Armyanda Tussadiyah dari Pesisir Lestari mengingatkan kembali keunggulan ekosistem pesisir. Menurutnya, kemampuan mangrove dalam menyerap emisi jauh melampaui kemampuan hutan daratan. Keberadaan mangrove bukan hanya sekadar pelindung pantai dari badai, tetapi juga menjadi aset berharga dalam perdagangan karbon dunia.

​Melalui penguatan ilmu pengetahuan dan reformasi tata kelola, tantangan kiamat iklim diharapkan bisa berubah menjadi peluang emas bagi kesejahteraan masyarakat pesisir di masa depan.(Ficky)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *