Manado, Narasione.com- Asa pesepak bola remaja di Bumi Nyiur Melambai untuk menembus panggung nasional kian terbuka lebar.
Manajemen Garuda Yaksa secara resmi menyudahi agenda penjaringan talenta muda berbakat yang dipusatkan di Sulawesi Utara (Sulut).

Selama dua hari beruntun, ajang berburu bakat ini diserbu ratusan pesepak bola remaja dari berbagai kabupaten dan kota, termasuk utusan Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara (Minut).
Proses penyaringan dipantau langsung oleh Coach Mukhlis Nur dari Tim Teknis Pusat Garuda Yaksa untuk mencari bibit lokal yang bakal digodok dalam skuad utama di level nasional.
Ketua Badan Liga Sepakbola Pelajar Indonesia (BLISPI) Sulut
Hengky Kawalo, yang juga mantan Pengurus PSSI Sulut di era Kepemimpinan Joune Ganda,mengamini bahwa kualitas dasar yang dimiliki anak-anak daerah sangat menjanjikan. Meski begitu, tim pemantau tetap menerapkan standar kelulusan yang tinggi.
”Hari pertama kami fokus melihat kemampuan mendasar, mulai dari akurasi umpan (passing), penguasaan bola (receiving dan ball control). Masuk hari kedua, penilaian langsung pada aspek permainan di lapangan, yaitu skema menyerang, organisasi pertahanan, hingga kedisiplinan transisi bermain,” tutur Hengky.
Menariknya, para pemain yang beruntung lolos di kelompok umur U-15, U-16, dan U-17 ini tidak langsung mengenakan jersi utama. Mereka harus bertolak ke Jakarta lebih dulu untuk bertarung di fase seleksi tingkat nasional melawan perwakilan dari provinsi lain.
Ajang pencarian bakat ini juga memantik perhatian kiper legendaris Tim Nasional Indonesia asal Sulut, Coach Jendri Pitoy, yang turun langsung mendampingi para pelatih lokal di pinggir lapangan.
Di sisi lain, pergerakan sepak bola usia dini ini mendapat sokongan penuh dari tokoh olahraga Sulut, Joune Ganda. Agar potensi anak-anak daerah tidak tersendat urusan biaya, Joune Ganda turun tangan menjadi sponsor utama yang memfasilitasi penuh 79 pemain asal Minahasa Utara, sehingga mereka dibebaskan dari biaya pendaftaran.
”Kolaborasi antara pengurus olahraga dan kepedulian tokoh masyarakat seperti Pak Joune Ganda adalah kunci. Komitmen beliau yang konsisten membuat roda kompetisi usia dini di daerah tetap menyala,” kata Hengky,
Langkah jemput bola yang dilakukan Garuda Yaksa ini dinilai menjadi jalan pintas yang sangat berharga. Pasalnya, peta kompetisi antarklub di Sulawesi Utara saat ini masih tertahan di level Liga 4.
Hengky menyebut, jika harus menunggu klub lokal merangkak naik hingga ke kasta tertinggi Liga 1, prosesnya bisa memakan waktu hingga lima tahun ke depan. Jalur seleksi ini menjadi momentum gerak cepat agar generasi emas Sulut tidak kehilangan panggung.
Tanah Sulut sendiri punya sejarah panjang dalam melahirkan pilar Timnas, mulai dari era Alsan Sanda, hingga deretan tuama muda yang belakangan menembus skuad Timnas U-20 lewat radar PSM Makassar serta beberapa klub Liga 1 seperti Dewa United.
Meski memburu mimpi di lapangan hijau, pihak manajemen dan pengamat mengingatkan para atlet remaja ini untuk tidak melupakan bangku sekolah. Di era sepak bola modern, keseimbangan antara pendidikan formal dan karier lapangan hijau menjadi fondasi penting bagi masa depan para pemain. (Ficky)













